Jumat, 10 April 2015

sejarah pemikiran pendidikan islam

PENDAHULUAN


Ilmu  merupakan pengetahuan yang mempnyai karakteristik tertentu. Pengetahuan dapat diartikan secara luas yang mencakup segenap apa yang kita tahu tentang suatu objek.
Akan tetapi dalam perkembangan pemikiran pendidikan islam dari zaman rasulullah sampai sekarang tentu mengalami perubahan yang selalu berubah, oleh kerena itu dalam makalah ini dipaparkan sejarah perkembangan pendidikan islam dari klasik sampai kontemporer.
  Pendidikan, pada dasarnya berkaitan dengan transformasi ilmu. Apalagi masalah pendidikan agama, yang berkaitan dengan ilmu-ilmu agama (ulumuddin) sangat penting di kalangan kaum muslimin. Manusia pertama yang memperoleh tranformasi ilmu langsung dari Allah ialah Nabi Adam As. Selanjutnya jaman terus berubah, pengetahuan pun berkembang dan manusia dengan potensi akalnya menemukan hal-hal yang baru, dan atau mengembangkan ilmu-ilmu yang ada sebelumnya. Dan di antara kaum muslimin yang banyak andil dalam pengembangan pemikiran Islam adalah Al Ghazali dan Ibnu Maskawaih.

PEMBAHASAN
SEJARAH PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM

A.    Pengertian  Pemikiran Pendidikan Islam
            Secara eimologi pemikiran berasal dari kata dasar “Pikir” yang berarti proses, cara, perbuatan memikir, yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijak.
Secara terminology, menurut Mohammad Labib An-Najihi, pemikiran pendidikan Islam adalah aktivitas pemikiran yang teratur dengan menggunakan metode filsafat.
Melihat depenisi tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa Pemikiran Pendidikan Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara sungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah pradigma pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan secara paripurna. [1]
B.     Tujuan  dan Kegunaan Mempelajari Pemikiran Pendidikan Islam
Secara khusus pemikiran pendidikan islam memiliki tujuan sangat komplek diantaranya adalah :
    1. Untuk membangun kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di seputar pendidikan islam.
    2. Untuk memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran islam dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh intelektual diluar islam.
    3. Untuk menumbuhkan semangat berijtihad, sebagaimana yang ditujukan oleh Rosulullah dan para kaum intelektual muslim pada abad pertama sampai abad pertengahan, terutama dalam merekonstruksi sistem pendidikan islam yang lebih baik.
    4. Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan sistem pendidikan nasional.
                                                                                                                            
C.    Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam
1. Masa Rasulullah SAW
Dalam catatan sejarah, eksistensi pendidikan Islam telah ada sejak Islam pertama kali diturunkan .Ketika Rasulullah mendapat perintah dari Allah untuk menyebarkan ajaran Islam, maka apa yang dilakukan, jelas masuk dalam kata gori pendidikan. Kepribadiannya merupakan wujudan ideal Islam tentang seorang guru dan pendidik.
Dalam Al-Qur’an, ayat yang pertama kali diturunkan Allah berhubungan langsung dengan pendidikan .Surah Al-Alaq jelas mengandung nilai filosofi yang menjadi dasarkegiatan pendidikan.Hal tersebut menunjukkan penekanan dan pandangan Al-Qur,an terhadap pentingnya ilmu pengetahuan .
Ketika di Mekah, proses pendidikan Islam dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabat di Darul Arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah.DiMadinah proses pendidikan dilakukan di Masjid, yang mana di dalam Masjid tersebut terdapat suffah yang berfungsi sebagai tempat pendidikan dan tempat tinggal bagi pendatang yang dating ke Madinah.[2]
Kebijakan lain yang dilakukan oleh Nabi dalam memajukan pendidikan Islam dalah melalui pemamfaatan para tawanan perang badar .Sejumlah tawanan yang dapat menulis dan membaca akan dilepaskan Rasul bila ia mengajari sepuluh anak-anak muslim menulis dan membaca.Pada era tersebut lembaga pendidikan yang adalah bernama kuttab.yang berfungsi sebagai tempat pengajaran pokok-pokok agama dan tulis baca.
2. Masa Para Sahabat
Setelah Rasul Wafat perkembangan ilmu pengetahuan pun terus berkembang,yang mana terus di kembangkan oleh para kahlifah dan sahabat lainnya.Namun para sahabat pada masa itu mengalami kesulitan, tapi berkat ajaran yang ditinggalkan oleh Rasul, para sahabat dapat melewati kesulitan tersebut, sehingga pada saat itu kehidupan dimasa rasul seakan-akan terulang kembali.Pemikiran pendidikan Islam masih tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist Rasul sebagai sumber utama rujukan pendidikannya.Tidak ada pemikiran baru pada masa tersebut, kecuali hanya sedikit bercampur dengan filsafat yunani.Akan tetapi sangat terbatas dan pengaruhnya sangat sedikit, sebagian besar berkisar pada logika bukan filsafat dalam pengertian yang luas seperti masa-masa sesudah khulafaurrasidin
3. Masa Bani Umayyah
Pada masa Umayyah pemikiran pendidikan Islam memasuki babak baru, dimana kstabilan politik telah dirasakan oleh negri –negri Islam .Oleh karena itu, tidak heran jika perhatian orang-oarang Islam sudah mengarah pada masalah kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan peradaban- peradaban baru .Dalam waktu yang sama mereka memberikan perhatian besar pada ilmu bahasa, sastra, dan agama untuk memelihanya dari pikiran – pikiran luar. 
Pemikiran pendidikan Islam pada masa ini juga tersebar pada beberapa tulisan ahli Nahwu, sastra, hadist, dan tafsir.Pada masa ini para ahli tersebut mulai mencatat ilmu-ilmu bahasa, sastra dan agama untuk menjaga agar tidak diseludupkan pikiran-pikiran lain dan perubahan yang akan merusaknya .

5. Pada Masa Abbasyah
Sedangkan perkembangan pemikiran pendidikan Islam pada masa Abbasiyyah merupakan masa keterbukaan terhadap kebudayaan dan peradap peradapan asing seluas-luasnya.Sehingga bermunculan lah para pemikir-pemikir baru, seperti munculnya empat imam mazhab terkenal dibidang ilmu fiqih yakni Imam Abu Hanifah(80-150 H), Imam Malik (95-179 H), Imam Asy-Syafi’i(150-204 H) dan Imam Hanbali (164-241 H).Selain dari itu muncul pula pengumpul hadits yang sangat mashur yakni Imam AL-Bukhari (194-256 H).
Perkembangan tersebut dalam sejarah Islam dikenal nmasa “keemasan”, karena pada saat itu ilmu-ilmu akal sudah mulai masuk dan bermunculan, pembinaan sekolah –sekolah, dan timbulnya pemikiran pendidikan yang istimewa.Selain dari itu penerjemahan terhadap buku-buku filsafat yunani kedalam bahasa arab sangat gencar dilakukan, begitupun dengan buku-buku budaya lain, seperti Persia,India, sehingga dalam waktu 150 tahun hamper semua ilmu pengetahuan yang ada sudah dibukukan kedalam bahasa Arab.[3]

D.    Tokoh pemikir pendidikan islam
1.      Ibn Miskawaih (Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih )
Lahir di rayy sekitar tahun 320 H./ 432 M. dan meninggal di isfaham pada tanggal 9 safar buwaihi yang berlatarbelakang mazhab syi’ah. Perhatiannya dalam menuntut ilmu sangat besar. Hal ini tercermin dari bidang ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Dalam bidang sejarah umpamanya, ia belajar dengan Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-qadhi, filsafat dengan ibn al-khammar, dan kimia dengan Abu Thayyib.
Pemikirannya tentang pendidikan lebih berorientasi pada pentingnya pendidikan akhlak. hal ini tercermin dari karya monumentalnya, Tahzib al-akhlaq. melalui karya tersebut Miaskawih menyetakan bahwa tujuan endidikan adalah terwujudnya sikap batin yang secara spontan mampu mendorong lahirnya perilaku dalam memperoleh kerimah-perilaku yang demikian akan sangat membantu peserta didik dalam memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan yang sejati.
2.      Ibn Sina (Abu Ali al-Husaiyn ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Sina)[4]
Llahir pada tahun 370/ 980 di asyanah, Bukhara (dalam peta modern masuknya Turkistan) ia wafat oleh penyakit disentri pada tahun 428/ 1037 dan dimakamkan di Hamadan (sekarang dalam wilayah Iran). Hasil pemikiran dari Ibn Sina diantaranya :
a. Falsafah wujud
b. Falsafah Faidh
c. Falsafah Jiwa
3.      Ibn Khaldum (Waliuddin Abdurrahman bin Muhamad bin Muhammad bin Hasan bin Jobir bin Muhammad binIbrahin bin Abdurrahman bin Walid bin Usman)
Lahir di Tunisia pada tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan wafat di Kairo 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 406 M.
Diantara stressing ruint pemikiran Khaldum adalah pada bidang pendidikan islam dalam melaksanakan pendidikan, maka menurut Khaldum paling tidak ada dua tujuan yang perlu disentuh yaitu jasmaniah dan rohaniah.
4.       Muhammad Abdus ibn hasan Khairuddin,
Lahir pada tahun 1265 H/ 1849 M. Pada sebuah desa dipropinsi Gharbuyyah-ia lahir dari lingkungan petani sederhana yang taat dan sangat mencintai ilmu pengetahuan.
Menurut Abduh metode yang kuno sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan dewasa ini, sebab metode tersebut menurut tumbuhnya daya peserta didik dalam bukunya al- a’mal al-kamila Abduh menawarkan metode pendidikan yang lebih dinamis dan kondusif bagi pengembangan intelektual peserta didik. Metode yang di maksud adalah metode diskusi.[5]
5.      Ismail raji al faruqi,
Lahir di Sayfa (palestina) pada tanggal 1 Januari 1921. Ia meninggal pada tanggal 1986. latar belakang pendidikannya ditempuh pada pendidikan barat yaitu Colege Des Peres (1936). Kemudian pendidikan pasca sarjana mudanya ia rampungkan pada America University (1941). Kemuudian program magisternya pada Indian University dan harvard University dalam bidang filsafat. sedangkan gelar doktor ia peroleh pada indian university dalam bidang yang sama.
Menurut analisis al-faruq umat islam saat ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan dan lemah, baik secara moral, politik, dan ekonomi terutama komunitas intelektual dalam wacana keagamaan, umat islam terbelenggu oleh Khurafal, kondisi ini membuat umat islam taqlid yang berlebihan terutama dalam aspek syariat. Kondisi ini membuat umat islam berada dalam kondisi statis dan enggan melakukan kreativitas, ijtihad.

6.      Syed Muhammad Waquib al-attas
Lahirkan di Bogor Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Paradigma pemikiran al-attas bila diaji secara historis merupakan sebuah pemikiran yang berasal dari dunia metafisika kemudian kedunia kosmologis dan mermuara pada dunia psikologis, perjalanan kehidupan dan pengalaman pendidikannya memberikan andil yang yang sangat besar dalam pembentukan paradigma pemikiran selanjutnya.

E.     Perkembangan Pemikiran Islam Di Indonesia
 Pemikiran pendidikan Islam di Indonesia dikelompokkan menjadi dua periode, yaitu:  
1)      periode sebelum Indonesia merdeka ((1900-menjelang 1945)
Menurut Wirjosukarto (1985) pada periode tersebut terdapat dua corak pendidikan, yaitu
·         corak lama yang berpusat pada pesantren.
Ciri-ciri corak ini yaitu
(1) menyiapkan kiayi atau ulama’ yang hanya menguasai masalh agama semata;
(2) kurang diberikan pengetahuan untuk mengetahui perjuangan hidup sehari-hari dan pengetahuan umum sama sekali tidak diberikan;
(3) sikap isolasi yang disebabkan karena sikap non kooperasi secara total dari pihak pesantren terhadap apa saja yang berbau Barat, 

·         corak baru dari perguruan (sekolah-sekolah) yang didirikan oleh pemerintah Belanda.agama saja.
 ciriciri corak baru adalah:
(1) hanya menonjolkan intelek dan sekaligus hendak melahirkan golongan intelek;
(2) pada umumnya bersikap negatif terhadap agama Islam;
(3) alam pikiranya terasing dari kehidupan bangsanya.[6]

2)      periode Indonesia merdeka ((1945-sekarang).

Pada awal masa kemerdekaan, pemerintah dan bangsa Indonesia mewarisi sistem pendidikan dan pengajaran yang dualistis, yaitu:
  1. sistem pendidikan dan pengajaran pada sekolah-sekolah umum yang sekuler, tak mengenal ajaran agama, yang merupakan warisan dari pemerintah kolonial Belanda; dan
  2. sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang tumbuh dan berkembang dikalangan masyarakat Islam sendiri, baik yang bercorak isolative-tradisional maupun yang bercorak sentetis dengan berbagai variasi pola pendidikanya sebagaimana uraian tersebut diatas.
Kedua sistem pendidikan tersebut sering dianggap saling bertentangan serta tumbuh dan berkembang secara terpisah satu sama lain. Sistem pendidikan dan pengajaran yang pertama pada mulanya hanya menjangkau dan dinikmati oleh sebagian kalangan masyarakat, terutama kalangan atas saja. Sedangkan yang ke dua sistem pendidikan dan pengajaran Islam tumbuh dan berkembang secara mandiri di kalangan rakyat dan berurat berakar dalam masyarakat. Hal ini diakui oleh Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) dalam usul rekomendasinya yang disampaikan kepada pemerintah, tentang Rencana Pokok-Pokok Pendidikan dan Pengajaran Baru, pada tanggal 29 Desember 1945.
3)      Tokoh yang berperan di dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia, diantaranya:
1.   Zainuddin Labay El-Yunusi
2.   KH. Ahmad Dahlan
3.  KH. Hasyim Asy’ari[7]


KESIMPULAN

Pemikiran Pendidikan Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara sungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah pradigma pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan secara paripurna.
Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam disini dibahas yaitu: Masa Rasulullah SAW, Masa Para Sahabat, Masa Bani Umayyah, dan Masa Abbasyah.
Tokoh pemikir pendidikan islam, Ibn Miskawaih (Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’kub Ibn Miskawaih ), Ibn Sina (Abu Ali al-Husaiyn ibn Abdullah ibn al-Hasan ibn Sina), Ibn Khaldum (Waliuddin Abdurrahman bin Muhamad bin Muhammad bin Hasan bin Jobir bin Muhammad binIbrahin bin Abdurrahman bin Walid bin Usman), Muhammad Abdus ibn hasan Khairuddin, Ismail raji al faruqi, dan Syed Muhammad Waquib al-attas.
Pemikiran pendidikan Islam di Indonesia dikelompokkan menjadi dua periode, yaitu: periode sebelum Indonesia merdeka, dan periode Indonesia merdeka.
Corak-corak pemikiran pendidikan Islam sebelum Indonesia merdeka  meliputi: Corak lama, Corak baru. Tokoh yang berperan di dalam pengembangan pemikiran pendidikan Islam di Indonesia, diantaranya: Zainuddin Labay El-Yunusi, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari






DAFTAR PUSTAKA

Nasution,Harun. 1996. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jakarta : Universitas Indonesia.
Nata, Abuddin .2011. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Pranada Media Group
Hasan Langgulung. 1992.  Asas-asas Pendidikan Islam,( Jakarta:Pustaka Al-Husna)
Susanto, A, 2009, Pemikiran Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah.


                                                                





[1] Hasan Langgulung. 1992.  Asas-asas Pendidikan Islam,( Jakarta:Pustaka Al-Husna).hal 120
[2]. Abuddin Nata.2011. Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta: Pranada Media Group) hal. 71- 142

[3]. Ibid.,hal. 147-151
[4].  Harun Nasution. 1996.  Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya,(Jakarta :Universitas Indonesia), hal.50
[5]. Ibid., hal. 52-53
[6]. Susanto, A, 2009, Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah) hal. 20-26
[7]. Ibid., hal. 27-30

konsep pendidikan islam menurut ibnu maskawaih

Pendahuluan  Pengertian pendidikan secara umum, yang kemudian dihubungkan dengan islam sebagai suatu sistem keagamaan menimbulkan pengertian-pengertian baru, yang secara implisit menjelaskan karakteristik-karekteristik yang dimilikinya. Pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks islam inheren dalam konotasi istilah “ Tarbiyah”, “ Ta’lim”  dan “ Ta’dib” yang harus dipahami secara bersama-sama.[1]            Dengan demikian pendidikan islam adalah segala upaya atau proses pendidikan yang dilakukan untuk membimbing tingkah laku manusia baik individu maupun sosial, untuk mengarahkan potensi baik potensi dasar (fitrah) maupun ajar yang sesuai dengan fitahnya melalui proses intelektual dan spritual berlandaskan nilai islam untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan di akhirat.[2]            Dari uraian diatas terlihat dengan jelas bahwa pemikiran muslim tentang pendidikan islam tidaklah monotelik.[3] Setiap pemikir memiliki kecenderungan pemikiran yang khas dengan setting sosial-kultural pemikir yang bersangkutan. Disini punulis akan menganalisi dan mendiskripsikan konsep pendidikan islam menurut Ibn Miskawaih  PEMBAHASAN 
  1. Riwayat Hidup Ibn Miskawaih
            Nama lengkapnya adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibn Miskawaih. Ia lahri pada tahun 320 H/ 932 M. Di Rayy, dan meninggal di Isfahan pada tanggal 9 shafar tahun 412 H/ 16 Februari 1030 M. Ibn Miskawaih hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaihi (320-450 H/ 932-1062 M.) yang sebagian besarnya adalah bermadzhab syi’ah.            Dari latar belakang pendidikanya bahwa Ibn Miskawaih mempelajari sejarah dari Abu Bakr Ahmad Ibn Kamil al-Qadi; mempelajari filsafat dari Ibn al-Akhmar, dan mempelajari kimia dari Abu Thayyib.            Dalam bidang pekerjaan, tercatat, bahwa pekerjaan utama Ibn Miskawaih adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan dan pendidik anak dari pemuka dinasti Buwaihi. Selain itu Miskawaih juga dikenal sebagai sejarawan besar yang kemasyhurannya melebih pendahulunya, At-Thabari ( w. 310 H/ 923 M ). Selanjutnya ia juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa.
            Ia juga diduga beraliran syi’ah, karena sebagian besar usianya dihabiskan untuk mengabdi kepada pemerintah Dinasti Buwaihi. Ketika muda, ia mengabdi kepada Al-Muhallabi, wajirnya pangeran Buwaihi yang bernama Mu’iz al-Daulah di Baghdad. Setelah wafatnya Al-Mullabi pada 352 H (963 M), dia berupaya dan akhirnya diterima oleh Ibn al-‘Amid, saudaranya Mu’iz al-Daulah yang bernama Rukn al-Daulah yang berkedudukan di ray. Lau Misakawaih meninggalkan Ray menuju Baghdad dan mengabdi kepada istana pangeran Buwaihi, ‘Adhud al-Daulah. Miskawaih mengabdi kepada pangeran ini sebagai bendaharawan dan juga memengang jabatan-jabatan lain. Setelah pangeran ini wafat pada 372 h (983 M), Miskawaih tetap mengabdi kepada para pengganti ini, Shamsan al-Daulah (388 H/998 M), dan Baha’ al-Daulah (403 H/1012 M) dan naik selama periode Baha al-Daulah keposisi yang amat prestisius dan berpengaruh. Dia mencurahkan tahun-tahun terakhir dari hidupnya untuk menulis.[4]
 
  1. Konsep pendidikan Ibn Miskawaih
            Pemikiran pendidikan Ibn Miskawaih tidak dapat dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlak. Dari karya Ibn Miskawaih tidak ditemukan buku bertemakan“ Pendidikan” secara langsung. Hanya beberapa buku yang pembahasannya berkaitan dengan pendidikan dan kejiwaan, akal serta etika. Salah salah satu buku yang dinilai banyak yang mengandung konsep pendidikan ialah kitab Tahzib al-Akhlak wa Tahrir al-A’raq, yang banyak dijadikan rujukan ulama’ dalam pendidikan.1). Manusia dan PendidikanIbn Miskawaih mengakui bahwa pendidikan berfungsi sebagai pembentukan keperibadian manusia, dengan segala daya yang dimilikinnya, sehingga tercipata manusia yang memiliki malalakah dan karakter mulia, malakah adalah sifat yang berurat dan berakar, sebagai hasil dari sesuatu pekerjaan secara berulang, sehingga bentuk aktivitas tersebut tertanam dalam jiwa jiwa yang kuat. Secara etimologi kata malakah berarti menjadikan sesuatu yang dimiliki atau dikuasai; suatu sifat yang mengakar dalam jiwa. Jika kata tersebutdihungkan dengan persoalan belajar, maka akan bermakna suatu tingkat capaian dan sikap tertentu sebagai akibat dari proses belajarManusia dalam menerima perubahan karakter, mempunyai banyak tingkatan. Hal ini sebagaimana perkembangan anak, dimana ada yang siap menerima perbaikan karakter, ada yang enggan, ada yang keras, lembut, kikir, dengki, bahkan saling kontradiksi. Maka selamannya ia akan mengikuti tabiat yang demikian, ia akan berbuat sesuai dengan selera alamiahnya, menurut Ibn Miskawaih manusia adalah makhluk yang istimewa karena daya pikirannya, dengan demikian maka pendidikan merupakan kewajiban, karena tanpa pendidikan pikiran manusia tidak akan berfungsi sebagaiman diharapkan. Akibatnya manusia tidak bisa menjalankan syari’at agama dengan benar, sehingga turunlah derajatnya menjadi binatang.2). Dasar dan Faktor PendidikanDasar adalah landasan bagi berdirinnya sesuatu yang memberikan arah bagi tujuan yang hendak dicapai. Menurut Ibn Miskawaih dasar Pendidikan adalah:a)      Syari’atIbn Miskawaih tidak menjelaskan secara pasti tentang dasar pendidikan. Namun secara tegas ia menyatakan bahwa syariat agama merupakan faktor penentu bagi lurusnya karakter manusia, yang menjadikan manusia tebiasa melakukan perbuatan terpuji, yang menjadikan jiwa mereka siap menerima kearifan (hikmah), dan keutamaan (fadilah), sehingga dapat memperoleh kebahagiaan berdasarkan penalaran akurat. Dengan demikian syariat agama merupakan landasan pokok bagi pelaksanaan pendidikan yang merujuk kepada Al-Qur’an dan sunnah. Oleh karena itu, prinsip syari’at harus diterapkan dalam proses pendidikan, yang meliputi aspek hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan makhluk lainnya.b)      PsikologiMenurut Ibn Miskawaih, antara pendidikan dan pengetahuan tentang jiwa erat kaitannya. Unutk menjadikan karakter yang baik, harus melalui perekayasaan ( shina’ah ) yang didasarkan pada pendidikan serta pengarahan sisitematis. Itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan mengetahui jiwa lebih dahulu. Jika jiwa dipergunakan dengan baik, maka manusia akan samapai pada tujuan yang tertinggi dan mulia.
Maka dari itu, jiwa merupakan landasan penting bagi pelaksanaan pendidikan. Pendidikan tanpa pengetahuan psikologi laksana pekerja tanpa pijakan. Dengan demikian teori psikologi perlu diaplikasikan dalam proses pendidikan. Dalam hal ini Ibn Miskawaih adalah orang yang pertama kali melanadaskan pendidikan pengetahuan psikologi. Ia adalah printis psikologi pendidikan, dan layak disebut Bapak Psikologi Pendidikan.[5] 3)      Pendidikan AkhlakPendidikan akhlak yang dirumuskan Ibn Miskwaih adalah terwujudnya sikap batin yang mempu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan sejati dan sempurnaan.
Sejalan dengan urain tersebut, Ibn Miskawaih menyebutkan tiga hal pokok yang dipahami sebagai materi pendidikan akhlak. Tiga hal pokok tersebut adalah
(1) hal-hal yang wajib bagi kebutuhan manusia,
(2) hal-hal yang wajib bagi jiwa, dan
(3) hal-hal yang wajib bagi hubunganya dengan sesama manusia.
Ketiga pokok materi tersebut menurut Ibn Miskawaih dapat diperoleh dari ilmu-ilmu yang secara garis besar dapat dikelompokan menjadi dua. Pertama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran yang selanjutnya disebut al-ulum al-fikriyah, dan kedua ilmu-ilmu yang berkaitan dengan indera yang selanjutnya disebut al-ulum al-hissiyat.[6] 4)      Pendidik dan Anak DidikPendidik yang dalam hal ini guru, instruktur, ustadz, atau dosen memegang peranan penting dalam keberlangsungan kegiatan pengajaran dan pendidikan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Sedangkan anak didik yang selanjutnya disebut murid, siswa, peserta didik atau mahasiswa merupakan sasaran kegiatan pengajaran dan pendidikan merupakan bagian yang perlu mendapatkan perhatian yang seksama. Perbedaan anak didik yang menyebabkan terjadinya perbedaan materi, metode, pendekatan dan sebagainya.[7]Kedua aspek pendidikan (pendidik dan anak didik) ini mendapat perhatian yang khusus dari Ibn Miskawaih. Menurutnya, orang tua merupakan pendidik yang mula-mula bagi anak-anaknya dengan syariat sebagai acuan utama meteri pendidiknya. Karena peran yang demikian besar dari orang tua dalam kegiatan pendidikan, maka perlu adanya hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak yang didasarkan pada cinta kasih. Namun demikian, cinta seseorang terhadap gurunya, menurut Ibn Miskawaih harus melebihi cintanya terhadap orang tuanya sendiri.Ibn Miskawaih juga menyatakan bahwa cinta itu banyak jenis, sebab dan kualitasnya. Secara umum ia membagi cinta kepada empat bagian. Pertama, cinta yang cepat melekat tetapi juga cepat pudar. Kedua, cinta yang cepat melekat tetapi tidak cepat meudar. Ketiga, cinta yang melekatnya lambat tetapi pudarnya cepat pula, dan keempat cinta yang melekat dan pudarnya lambat. Cinta yang dasarnya karena kenikmatan, termasuk cinta yang cepat melekat dan cepat pula pudarnya. Sedangkan cinta yang dasarnya karena kebaikan, termasuk cinta yang cepat melekat tetapi lambat pudarnya. Selanjutnya cinta yang didasarkan atas kemanfaatan, termasuk cinta yang lambat melekatnya dan cepat pula pudar. Sedangkan cinta yang dasarnya adalah semua jenis kebaikan tersebut, maka melekat dan pudarnya lambat.Adapun yang dimaksud guru biasa oleh Ibn Miskawaih tersebut bukan dalam arti sekedar guru formal karena jabatan. Menurutnya, guru biasa adalah mereka yang memiliki berbagai persyaratan antara lain: bisa dipercaya; pandai; dicintai; sejarah hidupnya jelas tidak tercemar masyarakat. Disamping itu, ia hendaknya menjadi cermin atau panutan dan bahkan harus lebih mulia dari orang yang dididiknya.[9]   5)      Lingkungan PendidikanIbn Misakawaih berpendapat bahwa usaha mencapai kebahagiaan (as-sa’adat) tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus bersama atas dasar saling menolong dan saling melengkapi. Kondisi demikian akan tercipta apabila sesama manusia saling mencintai. Setiap pribadi merasa bahwa kesempurnaan dirinya akan terwujud karena kesempurnaan yang lainya. Jika tidak demikian, maka kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan sempurna. Atas dasar itu, maka setiap individu mendapati posisi sebgai salah satu anggota dari selurruh anggota badan. Manusia menjadi kuat dikarenakan anggota-anggota badannya.[10]
Selanjutnya Ibn Miskwaih berpendapat bahwa salah satu tabiat manusisa adalah memelihara diri. Karena itu manusia selalu berusaha untuk memperolehnya bersama dengan makhluk sejenisnya. Manfaat dari hasil pertemuanya adalah akan memperkuat akidah yang benar dan kesetabilan cinta kasih sesamanya. Upaya untuk ini, antara lain dengan melaksanakan kewajiban syari’at. Shalat jum’at, shalat berjama’ah, shalat hari raya, dan haji menurut Ibn Miskawaih merupakan isyarat bagi adanya kewajiban untuk salaing bertemu, sekurang-kurangnya satu minggu sekali.pertemuan ini bukan saja dengan orang-orang yang berada dalam lingkungan terdekat, tetapi sampai pada tingkat yang paling jauh.Ibn Misakawaih membicarakan lingkunan pendidikan dengan cara yang bersifat umum. Yaitu dengan membicarakan lingkungan masyarakat pada umumnya, mulai dari lingkungan sekolah yang menyangkut hubungan guru dan murid, lingkungan pemerintahan yang menyangkut hubungan rakyat dan pemimpinya, samapai lingkungan rumah tangga yang meliputi hubungan orang tua dengan anak dan anggota lingkunga lainya. Keseluruhan lingkungan ini satu dan lainnya secara akumulatif berpengaruh terhadap terciptanya lingkungan pendidikan. 6)      Metodologi PendidikanMetodologi pendidikan dapat diartikan sebagi cara-cara yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan, yaitu perubahan-perubahan kepada keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian metode ini terkait dengan perubahan dan perbaikan. Jika sasarannya adalah perbaikan akhlak maka metode pendidikan disini berkaitan dengan metode pendidikan akhlak. Dalam kaitan Ibn Miskawaih berpendirian bahwa masalah perbaikan akhlak bukanlah merupakaan bawaan atau warisan, karena jika demikian keadaannya tidak diperlukan adanya pendidikan. Ibn Miskawaih berpendirian bahwa akhlak seseorang dapat diusahakan atau menerima perubahan yang diusahakan. Jika demikian halnya, maka usaha-usaha untuk mengubahnya diperlukan adanya cara-cara yang efektif yang selanjutnya dengan dengan istilah metodologi.Terdapat beberapa metode yang diajukan Ibn Miskawaih dalam mencapai akhlak yang baik. Pertama, adanaya kemauan sungguh-sungguh untuk berlatih terus menerus dan menahan diri (al-‘adat wa al-jihad) untuk memperoleh keutamaan dan kesopanan yang sebenarnya sesuai dengan keutamaan jiwa. Latihan yang sungguh-sungguh semacam ini diumpamakan oluh Ibn Miskawaih seperti kesiapan raja sebelum berhadapan dengan musuh. Kesiapan dimaksud mengandung pengertian harus dilakukan secara dini, terus menerus dan tidak menunggu waktu. Metode semacam ini ditemui pula dalam karya etika para filosof yang lain sperti halnya yang dilakukan al-Ghazali, Ibn Arabi dan Ibn Sina, metode ini termasuk metode yang paling efektif untuk memperoleh keutamaan jiwa.Kedua, dengan menjadikan semua pengetahuan dan pengalaman orang lain sebagai cermin bagi dirinya. Adapun pengetahuan dan pengalaman dimaksud denga pernyataan ini adalah pengetahuan dan pengalaman berkenaan dengan hukum-hukun akhlak yang berlaku bagi sebab munculnya kebaikan dan keburukan bagi manusia.dengan cara ini seseorang tidak akan hanyut kedalam perbuatan yang tidak baik, karena ia bercermin kepada perbuatan buruk dan akibatnya yang dialami orang lain. Manakala ia mengukur kejelakan atau keburukan orang lain, ia kemudian mencurigai dirinya, bahwa dirinya juga sedikit banyak memiliki kekurangan seperti orang tersebut, lalu menyelidiki dirinya. Dengan demikian, maka setiap malam dan siang ia akan selalu meninjau kembali semua perbuatanya, sehingga tidak satupun perbuatanya terhindar dari perhatianya. 7)      Tujuan PendidikanIbn Miskawaih memusatkan perhatiannya kepada filsafat akhlak. Karena itu corak pemikiran pendidikannya bertendensi moral. Adapun tujuan pendidikan menurut Ibn Miskawaih adalah idealistik –spritual, yang merumuskan manusia yang berkemanusiaan, bukan sebagai manusia yang kemanusiaanya tanggal. Rumusan ini sejalan dengan fungsi kerasulan Muhammad yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Qalam: 4: “ Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. Dari sinilah kebanyakan para ahli pendidik muslim sepakat bahwa tujuan pendidikan islam yang paling pokok adalah pendidikan budi pekerti dan jiwa. Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan islam inilah kemudiaan menjadi penentu bagi keberhasilan pendidikan Islam. Sebagaimana yang terangkum dalam firman Allah:“ dan diantara mereka ada orang yang berdo’a: ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.  KESIMPULAN Dari konsep pemikiran pendidikan yang disampaikan oleh Ibn Miskawaih, jika ditelaah dengan pendekatan epistemologi secara hirarki, maka konsep tersbut selalu mengacu kepada tiga hirarki, yaitu yang mengacu pada kondisi pesikologis dan kesiapan peserta didik, yang ditetapkan menjadi tiga tingkatan yaitu bayany untuk pemula, burhany untuk orang dewasa dan irfany bagi mereka yang matang baik jiwa maupun intelektual. Sementara dari segi materi dan sasarannya juga dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu empirik bagi pemula, logik bagi dewasa dan etik bagi mereka yang sudah matang. DAFTAR PUSTAKAAzra, Azyumardi. 2002. Pendidikan Islam. Cetakan ke IV. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.Kholiq, Abdul.1999.Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Cet. I. Semarang: Pustaka Pelajar Offset.Nasution, Hasyimsyah.1999. Filsafat Islam, Cet, Ke Empat. Jakarta: penerbit Gaya Media Pratama.Suyudi, M. 2005. Pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an. Cet. I.Yogyakarta: penerbit Mikraj.   

[1]  Azyumardi Azra, Pendidikan Islam,Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,  Cet. IV. (jakarta: Logos Wacan Ilmu, 2002)
[2]  H.M. Suyudi, Pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an, Cet. I. (Yogyakarta; penerbit Mikraj, januari 2005)
[3]  Abdul Kholiq, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Cet. I. ( Semarang: Pustaka Pelajar Offset, 1999)
[4]  Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, Cet, Ke Empat,( Jakarta; penerbit: Gaya Media Pratama, 1999.)
[5] H.M. Suyudi, Pendidikan dalam perspektif Al-Qur’an, Cet. I. ( Yogyakarta; penerbit Mikraj, januari 2005), Hlm, 243.
[6] Abdul Kholiq, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Cet. I. ( Semarang: Pustaka Pelajar Offset, 1999), Hlm, 12.
[7]  Ibid., hlm. 16.
[9] Ibid., hlm.19- 20.
[10]
  Ibid., hlm. 20. 

Selasa, 20 Januari 2015

curahan hati mahasiswa smester akhir

selamat tengah malam sobat,
kalian pasti sudah banyak mendengar keluhan keluhan dari mahasiswa smester akhir bukan ? atau mungkin sudah bosen denger keluhan keluhan mereka mulai dari males ngampus karena ketuaan dikampus hehe, inila itula termasuk yang akan saya curhatin ni yaitu " masalah sama dosen pembimbing". langsung aja ya gini ni cerita gue (upsss maaf bahasa gaul gue mulai keluar :) )
       ceritanya tu gue adalah mahasiswa semester akhir di kampus gue, sekarang gue lagi ngejalanin proses bimbingan bisa dibilang lagi sibuk sibukny atau bisa juga dibilang sok sibuk la gitu.. menurut gue si wajarnya dibilang sok sibuk soalnya gue sibuk mundar mandir kampus kost tapi suda 2 bulan mulai bimbingan tapi Skripsi gue masi aja di tahap proposal. eittssss tunggu broo jgan ngejats gue males dulu kan gue da bilang gue tiap hari kekampus tapi masalahny itu dosen pembimbing gue itulo sekali ketemu bilangny besok dua kali ketemu bilangnya minggu depan lama lama gue tua di proposal kalo gini mulu. pernah sehari gue ngerasa nggak dihargain  banget ma dosen gue soalny gue dari pagi ampe jam 5 sore nunggu tu dosen dianya mala ngak dteng kekampus di bbm gak dibles cma diread doang (kalo kata citacitata tu sakitnya tu disini sob). tapi ngak apala anggap aja ini pengorbanan untuk suatu yang lebi membanggakan.
dan pesan untuk kita semua terutama yang ingin jadi dosen "nanti kalo kalian jadi dosen jangan suka menghambat mahasiswa ingat gimana kita kuliah duluh kan ngak enak kalo digituin, lagian kan nambah pahala juga kalo memperlancar kerja seseo
rang " .
oke sob sampe disini dulu curhat tengah malam gue maaf kalo ada yang kesinggung soalny nggak bermaksud nyinggung . terimah kasih